Minggu, 12 Februari 2012

Sahabatku, Muslimah Solihah Milik Allah SWT

Malam ini aku benar-benar dibuat menangis terisak oleh sahabat baruku. Belum genap 1 tahun kami saling mengenal namun entah mengapa aku merasa sangat nyaman bersahabat dengannya. Ia yang secara tidak langsung membawaku masuk dalam dunia yang lebih islami. Ia yang secara tidak langsung mengenalkanku tentang dunia remaja yang lebih indah jika waktu yang kita lewati dihabiskan dipelataran Masjid, hingga akhirnya kami bersama-sama masuk dalam Forum Rohis Kampus, hingga akhirnya aku tahu Alghifari dan hingga akhirnya aku tahu bahwa kini tempat itu jaaaaauuuuhh lebih nyaman dibandingkan dengan tempat-tempat lain yang pernah ku singgahi.
Aku merasa ia seperti saudara baruku yang slama ini ku cari-cari. Kita terus mencoba menyatukan pemikiran dan tujuan kita yang akhirnya hanya tertuju pada dzat yang maha sempurna, yang maha memilliki hati setiap insan yang ada dimuka bumi ini.
Aku belajar banyak hal secara sembunyi-sembunyi darinya. Aku belajar tentang indahnya kesederhanaan yang slalu terpancar pada dirinya. Aku belajar tentang arti dari sebuah kesabaran darinya yang tak pernah banyak mengeluh. Aku pun belajar banyak hal lain yang secara perlahan buatku memiliki keinginan besar untuk berubah, berubah menjadi seorang pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

Sahabatku, wanita sholehah milik Allah SWT, ,
Izinkan aku kembali mengulang semua perkataanmu, ,

Jika salah satu diantara kita mulai merasa lelah, maka marilah kita bersama-sama pejamkan mata dan bayangkan Asma Binti Abu Bakar yang sedang memanjat tebing saat berjihad dalam keadaan hamil besar.
Jika salah satu dari kita dibuat menangis oleh ujian hidup, maka bagilah air mata itu agar kita bersama-sama mencoba pelajari ketabahan Asiyah, istri Fir’aun yang tabah menghadapi kekejaman Fir’aun.
Bila celaan mulai menyapa salah satu diantara kita, maka mari kita saling membantu menghadirkan kesabaran Siti Maryam saat ia sedang mengandung Nabi Isa AS. Dan bila putus asa mulai buat salah satu diantara kita menyerah, maka mari bayangkan bersama Siti Hajar yang berlari dari bukit Safa dan Marwah.

“. . . Mereka hanyalah manusia biasa seeperti diri kita, namun cinta pada Rabbnya yang membuat mereka Sabar, Tabah dan Kuat. . .”


Aku ingin kita bisa seperti mereka, aku ingin kita bersama-sama berjuang dijalan Allah SWT, aku ingin kita menjadi sahabat yang saling mencintai karna Allah SWT, aku ingin ukhuwah islamiyah ini menjadi sebuah ikatan yang akan mewujudkan kekuatan islam dan aku ingin kita terus bersama dalam naungan cinta ilahiyah juga berada dalam naungan ‘Arsy pada hari akhir nanti.

. . . karna ukhuwah ini mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa untuk belajar meniti sabar dan ridho Allah SWT. Karna ukhuwah ini memberi kita arti kehidupan yang sesungguhnya, karna ukhuwah akan tetap dikenang meski kita telah tiada dan karna ukhuwah pula lah yang mengantarkan kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat. . .





Sahabatku, muslimah sholehah milik Allah SWT, ,
Mari kita bersama-sama menjadi muslimah solihat sejati yang slalu membawa maslahat, menjadi selembut Khadijah, secerdas Aisyah, semulia Ummu Salamah, secemerlang Fathimah, sesantun Zainab, setegar Asma dan segagah Nasibah. . .

Bogor, 12 Februari 2012.
Bestarri Benning, , ,

Rabu, 08 Februari 2012

For The Stupid Boy

*Untuk notes saya kali ini maaf jika agak sedikit frontal!!, hanya ingin mengungkapkan rasa kesal saya terhadap makhluk bodoh yang begitu menikmati segala kebodohan yang ada ada pada dirinya. (meski saya sadari, diri saya sendiri juga memang masih bodoh dalam berbagai hal, tapi tidak dalam hal yang saya sebutkan dibawah ini). . .

Ada yang salah dengan tingkah dan ucapan saya kah??
Ada yang merasa tak nyaman dengan apa yang kini saya perbuat??
Jika memang anda merasa tidak nyaman dengan sikap saya silahkan langsung berbicara dengan saya, silahkan langsung berhadapan dengan saya. Jangan terus bersembunyi dibalik tirai transparan anda karna itu hanya akan menjadikan anda terlihat seperti orang bodoh!!
Anda mengerti??
Perlu saya ulangi sekali lagi kah??
Anda benar-benar terlihat seperti ORANG BODOH!!
PHABOO!!
JINJCA PHABOYAA!!
Apa yang slalu saya katakan terhadap anda adalah suatu fakta, namun pada kenyataannya anda terlalu sibuk dengan perasaan anda sendiri sehingga anda mengabaikan segala petunjuk yang begitu jelas. Anda terlalu sibuk mencari-cari celah kesenangan anda layaknya anak kecil yang sedang berjalan kaki dan sibuk sibuk mencari sebungkus permen karet di dalam saku-saku bajunya hingga tanpa sadar ia tersesat dan tak mengetahui jalan pulang.
Saya benar-benar merasa tidak mengerti dengan apa yang anda fikirkan. Yahh hal itu memang wajar karna saya bukan seorang peramal tapi harap anda ingat saya juga bukan sebuah tameng atas segala keserakahan anda? Mengerti dengan maksud saya?? Atau perlu saya perjelas? Ahh, rasanya terlalu rendah jika saya membahas hal yang sedikitpun tidak penting bagi kehidupan saya jadi silahkan saja anda berintrospeksi diri. Araseo??
Saya kadang merasa takut bergaul dengan anda karna saya merasa takut tertular oleh sifat BERMUKA DUA anda yang slalu bersikap manis dan seakan diri sendiri tak pernah melakukan kesalahan. Aiissshhhh, , , ini semua benar-benar membuat saya pusing. Bukankah anda adalah orang yang mengerti banyak tentang agama Allah? Bukankah anda tahu banyak tentang segala peraturan yang tertera dalam Al-Quran? Bukankah anda begitu pandai tentang sunah-sunah Rasull?? Lantas mengapa anda terus bersikap seperti ini? Seakan hawa nafsu yang penuh dengan perasaan serakah yang selalubertopengkan perasaan CINTA itu adalah segalanya dalam hidup anda. Seakan cinta pada sesama manusia itu merupakan suatu hal yang sangat penting hingga bisa membuat anda jatuh sakit, terluka, menderita dan terpuruk. Tahukah anda ketika anda mulai bersedih, terluka dan terlihat begitu menderita anda terlihat sangat MENYEDIHKAN, anda terlihat SEPERTI ORANG BODOH dan anda seakan lupa bahwa masih ada Allah SWT yang senantiasa setia memberi kita banyak cinta disetiap detik kehidupan yang kita lewati. Bahkan meski kita seringkali melupakan-Nya, ia tak pernah sama sekali berhenti mencintai kita, ia tak pernah berhenti barang sedetikpun melupakan kita.
Setiap detik yang kita lewati tak pernah luput dari pengawasan-Nya, setiap hari yang kita jalani tak pernah lepas dari berkahnya, lantas mengapa anda masih saja berkata “ANA KESEPIAN”, “GAK ADA YANG NGERTIIN ANA”, “GAK ADA YANG SAYANG ANA”, “GAK ADA YANG PEDULI ANA”. Aisshhh, tahukah anda, ketika anda berbicara demikian pada saya, rasanya saya benar-benar ingin muntah, saya benar-benar ingin berteriak bahwa BETAPA BODOHNYA ANDA!!!!
Anda tau, jika Allah tidak peduli pada anda, maka dengan mudahnya ia akan hentikan pasokan oksigen yang anda butuhkan hingga anda MATI terkulai lemas. Jika Allah tida menyayangi anda maka mungkin anda akan dibiarkan begitu saja hidup bagai orang gila yang tak berakal!
Anda tau apa tujuan Tuhan mengutus Rasul, menurunkan kitab suci Al-Quran dan berbagai petunjuk lainnya di dunia ini? Karna Allah SWT peduli pada kita, karna Ia menyayangi kita, karna Ia ingin kita bisa berjalan di jalan yang Ia ridhoi agar kelak bisa merasakan manisnya SYURGA!!
Jadi pada intinya BERHENTILAH BERSIKAP BODOH SEPERTI SEKARANG. JANGAN MEMANDANG SEMPIT DUNIA YANNG BEGITU LUAS INI, JANGAN MEMANDANG KECIL ANUGRAH TUHAN YANG BEGITU BESAR DAN MELIMPAH INI. KARNA SUNGGUH SAYA SANGAT MEMBENCI KEBODOHAN-KEBODAHAN INI. JIKA ANDA MASIH SAJA BERTAHAN DENGAN SIFAT PICIK ANDA MAKA JANGAN HERAN JIKA SATU PER SATU ORANG-ORANG TERDEKAT ANDA MULAI MERASA LELAH MEMBERIKAN PENGERTIAN PADA ANDA DAN PERLAHAN BERJALAN MENJAUH DARI SISI ANDA!!!!


#sorry capslock jebol!!!!


4 Februari 2012

Hanya Butuh Diam

Andai aku bisa,, mungkin semua takkan berakhir dengan sebuah tangis. Andai aku mampu sedikit saja berucap, mungkin rasanya takkan sesesak ini. Namun pada kenyataannya aku hanya bisa diam, aku hanya bisa berakhir dengan sebuah tangis. Sesakku terus menghimpit dada. Emosiku tetap kuasai diri. Jeritku tetap saja tertahan.
Aku terdiam bukan bermaksud acuh, bukan bermaksud apatis. Aku terdiam hanya dengan sebuah harapan agar hatiku tak terusik. Agar aku mendapat sedikit kenyamanan. Tak peduli tentang apa yang orang fikirkan terhadapku namun yang pasti aku hanya ingin sepiku tak terusik. Aku hanya tak ingin amarah yang slama ini slalu ku kubur dalam-dalam bersama dengan sgala rasa sakitku itu kembali menampakkan wujudnya.
Aku terlalu lelah tuk berjalan sendiri menanggapi segala hal yang slama ini ku benci. Aku terlalu bosan dengan hiruk-pikuk perjalanan dunia ini yang terus paksa aku tuk bersuara. Skali lagi ku ungkapkan AKU HANYA INGIN DIAM!! Aku hanya ingin nikmati sepi duniaku sendiri tanpa mereka yang terus mengusik kenyamanan hati.
Tak tahukah mereka bahwa aku sangat terluka dengan semua sifat mereka! Tak tahukah mereka bahwa aku benar-benar tertekan dengan segala kelakuan mereka!. Andai aku bisa, andai aku mampu dan andai ku miliki keberanian itu, mungkin tlah ku teriakakan segala perasaan dan kekesalan ini dengan keras dan suara yang lantang pada mereka. Namun, , jauh di dasar lubuk hatiku berkata “bukann, bukann itu yang seharusnya dilakukan, bukan itu yang seharusnya di ucapkan, aku hanya perlu diam dan bersikap seperti sekarang, menunggu mereka lelah dengan segala kelakuan konyol mereka!!”. Karna pada akhirnya memang hanya sebuah sikap DIAM yang harus tetap kujalani!!!


1 Februari 2012
Bestaeei Benning

My Life, My Way, My .....???

Hari demi hari tlah ku lewati, beribu-ribu detikpun tlah berlalu tertiup angin kehidupan. Aku kini berdiri tegak mengamati jejak kehidupanku. 17 tahun berlalu begitu cepat mengantarkanku pada suatu gerbang kehidupan yang sebenarnya. Berjuta kisah suka dan duka warnai setiap hari yang ku jalani. Pernah ada senyum bahagia yang mengembang dari bibir ini. Pernah ada tangis duka dari kedua mata ini. Pernah ada ribuan ungkapan emosi yang terlontar dari lisan yang sungguh belum faham akan arti sebuah kesabaran. Pernah ada jutaan pemikiran konyol akan suatu jalan kehidupan yang terlintas di benak ini. Semua yang ku rasa, semua yang ku dapat, semua yang ku alami dan semua yang kunikmati benar-benar mengajarkanku tentang makna suatu kehidupan.
Berulang kali ku mencoba berjalan dengan tertatih demi mencapai suatu gerbang kedewasaan. Masalah demi masalah datang silih berganti menguji hati ku sebagai pembuktian sejauh mana dan seserius apa niatku menuju gerbang perjuangan tersebut. Tak jarang tetesan air mata ikut mengalir membasahi kedua pipiku bersamaan dengan berjuta aliran keringat yang menjadi simbol suatu rasa lelah dari diri seorang wanita.
Masih teringat jelas jerit tangis kehilangan yang terdengar begitu memilukan dan seakan menyayat jiwa setiap orang yang mendengarnya mengalun begitu menyedihkan dalam perjalanan kehidupanku. Masih teringat pula tawa bahagia yang membahana mengisi setiap ruang dalam dinding hati menyambut kehadiran jiwa baru dalam kehidupan yang berliku ini serta berjuta peristiwa lainnya yang membawa suka serta duka yang berputar silih berganti layaknya suatu roda kehidupan.
Setiap detik waktu yang kulewati itu seakan berikan banyak pukulan dan hentakan pada hati dan fikiran agar terus berusaha merubah diri menjadi pribadi yang lebih dewasa, mengendalikan setiap amarah yang slalu meluap sesuka hati dan menekan setiap keegoisan yang terus menyelimuti diri.
Namun, , ,
Meski ribuan tetes air mata tlah tumpah ruah dan mungkin akan terus tertumpah, ,
Meski jutaan detik yang dihiasi dengan rintihan hati tlah warnai setiap hariku, ,
Aku takkan pernah berhenti tuk menyusuri setiap liku kehidupan hingga pada akhirnya kutemukan indah duniaku, , ^.^

Tak Pernah Lelah Tuk Menanti (Since 23 Juli 2005)

Aku mengenalnya sejak ia masih terbalut seragam putih-biru. Akupun mulai menyukainya sejak pertama kali aku melihatnya. Tak butuh waktu yang lama untuk sekedar menyukainya. Tatapan matanya yang berbinar dan penuh semangat buatku terpaku dengan segala pesona yang ada pada dirinya. Senyumnya yang manis dan khas slalu buatku merasa nyaman meski hanya ku nikmati dalam jarak pandang yang berjauhan. Tutur kata dan gaya bahasanya yang terdengar begitu bijaksana slalu memenuhi ruang dalam setiap fikiranku.
Senyumannya, ,
Tingkah lakunya, ,
Kepribadianya, ,
Gaya berjalannya, ,
Kata-katanya, ,
Kecerdasanya, ,
Jiwa kepemimpinanya, ,
Semua tentangnya masih saja melekat begitu erat dalam benakku. Lebih dari 6 tahun aku menunggu hatinya meski mungkin ia tak pernah tahu tentang penantian panjangku ini, meski memang ia yang tak pernah sekalipun memintaku untuk menunggunya, meski seringkali kehadiranku tak berarti apapun untuknya, dan meski seberapa jauhnya jarak yang ada diantara kami, entah mengapa aku tak pernah merasa lelah dengan semua penantian itu, tak pernah sekalipunmerasa bosan ataupun menyesal dan takut segala penantian ini hanya akan menjadi suatu hal yang sia-sia. Jauh dari kata penyesalan akan sebuah penantian yang kosong ini malah buatku benar-benar menikmati setiap detik waktu yang terlewati dalam sebuah penantian panjang tersebut.
Seringkali kudapati orang lain tersenyum miris ketika mengetahui penantian panjangku ini tak ada artinya bagia ia yang dinanti, seringkali air mata ini jatuh tak tertahan ketika rasa rindu mulai merajai hati hingga kuras berjuta emosi dalam diri dan seringkali kuterima segala cemoohan atas penatianku yang terkesan konyol bagi orang lain, namun sekali lagi entah mengapa aku tak bergeming dalam penantianku, aku tetap saja berdiri tegak menanti angin kebahagiaan dari sebuah penantian itu berhembus menyapaku.
Tak jarang kucoba kumpulkan keberanian tuk ungkapkan sgala asa yang ada dalam diri agar ia mau tuk sekedar mengerti dan pahami apa alasan dari penantian panjangku ini untuknya, namun ketika logika ku mencoba untuk merangkai setiap kata yang ada hatiku malah berbisik tuk segera hentikan tindakan yang terkesan konyol tersebut. Entah mengapa hatiku slalu saja meras jika penantian ini benar-benar tak pantas dan layak untuk diketahuinya. Aneh?? Entahlah karna hingga detik inipun aku masih tak bisa mengerti dengan hatiku sendiri.
Takkan ku pungkiri bahwa aku memang slalu berharap ia menjadi jodohku pada akhirnya. Namun tak dapat ku ingkari pula bahwa mungkin aku memang tak sedikitpun memiliki kualifikasi untuk sekedar kata “PANTAS” atas hatinya. Dan pada akhirnya aku hanya bisa berdoa pada sang pemilik hati setiap insan dimuka bumi ini agar jika pada kenyataannya ia memang buka jodohku maka kuatkan lah aku, jauhkan sgala rasa penyesalan atas ribuan hari yang tlah dipenuhi dengan jutaan penantian dan slalu yakinkan aku bahwasanya tulang rusuk itu takkan pernah tertukar. Karna pada akhirnya pemilik tulang rusuk tersebut pasti akan datang pada setiap insan yang dikehendaki-Nya....


Miss u my first love, my true love and my endless love. .
HMS :D 23 Juli 2005

Senin, 07 November 2011

cerpen/Nit, , Bukan Hanya Sekedar Mimpi

Tetes demi tetes air hujan yang padat dan rapat terus mengguyur kota surabaya, bau tanah basah yang khas dari halaman depan sebuah rumah sederhana ditengan desa sambikerep menyeruak masuk melalui celah-celah pada jendela kamar yang sengaja tidak dikunci rapat. Seorang remaja 17 tahun dengan wajah yang ayu khas gadis surabaya duduk termenung dihadapan jendela kamarnya. Matanya memandang lurus keluar jendela kamar, ia mencoba menikmati irama air hujan yang jatuh membasahi tanah kota pahlawan tersebut sambil berfikir keras untuk merangkai kata-kata yang dapat meyakinkan kedua orang tuanya agar dapat memberinya izin menjemput cita-citanya diluar surabaya. Ia kembali membolak-balik kertas yang ada ditangannya. Dibacanya lagi dan lagi isi tulisan yang tertera didalam kertas tersebut. Surat yang berisi tentang sebuah hal besar yang mampu membantunya mewujudkan segala cita-citanya sejak kecil. Ia membaca kembali dengan perllahan kalimat yang bercetak miring dan tebal yang ada didalam surat tersbut.

“Beasiswa penuh program keahlian Teknologi Industri Benih”

Ia kembali menghela nafas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan keinginannya pada kedua orang tuanya.

Malam hari setelah selesai shalat isya berjamaah bersama kedua orang tuanya, ia mulai mengumpulkan keberanian untuk memulai percakapan yang mungkin akan menguras emosi dan tenaganya bersama kedua orang tuanya.

“Bu, Pak, tolong izinin ninit buat kuliah di bogor yah, disana ninit dapat beasiswa penuh dari kampus, jadi insya allah ndak akan merepotkan ibu dan bapak.” Ucapnya dengan halus dan penuh sopan santun, memecah keheningan diruangan tersebut.

Ibu yang sedang mencoba melipat kembali mukena putihnya langsung menatap sang anak dengan penuh kasih sayang seraya berkata “bukannya ibu ndak ngizinin toh cah ayu, kamu itu anak kita satu-satunya, kalo disana ada apa-apa sama kamu mau gimana toh!”

“iya toh nduk, buat apa kamu jauh-jauh kuliah di bogor sementara disini juga masih banyak perguruan tinggi negeri atau swasta yang bagus-bagus, kalo kamu mau bapak bisa kuliahin kamu di IAIN Sunan Ampel atau universitas mana saja asal itu masih di daerah surabaya.” Kini giliran sang ayah yang angkat bicara.

“beda lah bu, disana ninit diterima di universitas negri berbasis pertanian, beasiswa pula. Ibu sama bapak kan jadi ndak usah repot-repot ngeluarin biaya. Ninit janji bakal bikin ibu sama bapak bangga.”

“kenapa kamu ndak nerusin nyantri sama ngabdi di pesantrennya ustad umar aja toh, itu bisa bikin bapak lebih bangga kok.” Jawaban sang ayah kini mulai terdengar ketus, pertanda bahwa ia benar-benar tidak setuju dengan keinginan sang anak.

“tapikan pak, bapak juga tau dari kecil cita-cita ninit kan pengen supaya pertanian di desa kita ini lebih baik dan maju, petani-petaninya juga bisa hidup lebih sejahtera, ndak seperti sekarang ini, para petani hidup serba pas-pasan karna jerih payahnya menanam dan merawat hasil tani mereka kurang dihargai para tengkulak hanya karna beberapa keterbatasan mereka.”

Sejenak ruang kecil yangn biasa mereka gunakan untuk shalat berjamaah ini terasa begitu hening dan sunyi, terdengar helaan nafas ninit yang panjang dan berat, ia kemudian melanjutkan argumen-argumennya terhadap kedua orang tuanya.

“disana ninit bakal banyak belajar tentang ilmu pertanian, ninit kan bisa mengaplikasikan ilmu yang ninit dapet buat memajukan kesejahteraan serta perbaikan sistem pertanian di desa kita. Insya allah ilmu yang nantinya ninit dapet ndak akan sia-sia. Keterbatasan-keterbatasan para petani sambikerep ini insya allah akan ninit cari jalan keluarnya supaya tanah subur desa kita ini bisa mensejahterakan semua masyarakat. Ini mimpi terbesar ninit sejak kecil bu, pak.”

Ninit yang sejak kecil selalu berfikir kritis dan ambisisus memang selalu saja berceloteh bahwa suatu hari nanti ia bisa menjadi tokoh pertanian yang bisa membuat desanya yang subur dan kaya akan hasil pertanian tersebut menjadi desa terkaya dan sejahtera. Ia yang sejak kecil selalu meras heran dan bertanya-tanya mengapa para petani seperti orang tuanya yang susah payah kerja menggarap hasil sawah agar menghasilkan hasil tani yang berkualitas baik masih saja hidup sederhana dan serba pas-pasan, sementara para tengkulak yang biasa menampung hasil pertanian di desanya itu malah terlihat hidup mewah dan terkesan berlebihan. Namu segala pertanyaan itu kadang hanya ditanggapi dengan senyum manis sang ibu atau sekedar perkataan “karna petani kita cinta kesederhanaan” dari sang ayah tercinta. Namun hal-hal tersebut malah makin mebuat tekad yang ada dalam dirinya untuk menjadi tokoh peranian tersebut makin kuat hingga ia beranjak dewasa. Beasiswa dari salah satu perguruan tinggi negeri berbasis pertanian yang kini ada didepan mata dan merupakan peluang besar untuk mewujudkan mimpinya tersebut takkan semudah itu ia lepaskan. Dengan sabar dan penu adab serta sopan santun ninit terus melobi kedua orang tuanya agar diberi izin utuk meraih cita-citanya tersebut. Argumen demi argumen terus meluncur dari bibir kecilnya hingga mau tak mau kedua orang tuanya pun luluh dan mengalah dengan keinginan sang anak.

“Ya sudah lah pak, kita izinkan saja dia pergi, toh dia kan sudah dewas, biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri, kalau dia pengen begitu ya biarlah.” Suara serak ibu kini memberikan setitik harapan bagi ninit. Ia mulai tersenyum penuh harapan.

“Kalau itu memang baik menurutmu, yo wis lah terserah kamu saja, ndak ada gunanya jjuga bapak melarang-larang kalau kamunya kekeuh sama pendirianmu.” Kini sang ayah mulai melunak, meski terdengar tak ikhlas tapi ninit tau kedua orang tuanya pasti akan selalu mendukung keinginannya.

Seminggu setelah perbincangan dengan kedua orang tuanya tersebut, dengan bekal yang pas-pasan hasil tabungannya sejak SMA ia berangkat menuju kota hujan tanpa diantar oleh kedua orang tuanya. Meski begitu, ia tetap semangat dan optimis bahwa ia passti bisa membuat kedua orang tuanya bangga atas segala ilmu yang ia dapat di perguruan tinggi yang meimpany banyak harapan bagi ninit. Ia memang sengaja tidak meminta kedua oranng tuanya mengantar dirinya hingga ke kota huan tersebut, ia juga menolak uang bekal yang diberikan sang ibu dengan tujuan tidak ingin merepotkan kedua orangtuanya. Ia terus berjanji pada ayah dan ibunya bahwa ia takkan menyalahgunakan kepercayaan yang telah mereka berikan.


***

Hari demi hari berjalan begitu cepat, bulan berganti bulan, tak terasa ninit sudah mulai memasuki tahun ketiga dikampusnya. Berbagai prestasi tak pernah lepas dari tangannya. Kedua orang tuanya pun mulai bangga dan menyimpan banyak kepercayaan pada nya. Ia tumbuh menjadi gadis yang dewasa dan cerdas serta komunikatif, ia juga aktif di berbagai lembaga kemahasiswaan. Hari-harinya tak pernah lepas dari berbagai aktifitas yang mau tak mau menyita banyak waktunya.

Pagi ini kampus pertanian ternama dikota bogor dihebohkan dengan isu “Drop Out” 13 mahasiswa dari berbagai program keahlian akibat aksi demonstrasinya beberapa minggu lalu didepan sebuah perusahaan pengemabangan industri dan perumahan. Demonstrasi tersebut merupakan salah satu bentuk aksi solidarisasi dan kepedulian para mahsiswa atas salah satu desa yang terletak dikota surabaya yang hampir 90% lahan pertaniannya mulai dikuasi oleh perusahaan pengembangan industri dan perumahan tersebut yang akan dialih fungsikan sebagai kawassan industri dan perumahan padahal mayoritas penduduk desa tersebut adalah petani.

Berita tersebut juga menjadi lebih heboh lagi ketika nama ninit seorang mahasiswi yang terkenal dengan segudang prestasi gemilangnya masuk dalam daftar 13 mahasiswa calon drop out tersebut. Padahal beberapa minggu yang lalu ia baru saja mendapat berita menggembirakan karna ia berhasil lolos seleksi untuk mendapat beasiswa pertukaran pelajar ke Universitas Wageningen Belanda. Namun dengan adanya isu drop out tersebut, dengan terpaksa keputusan beasiswa tersebut dipertimbangkan kembali.

Sebenarnya aksi tersebut terjadi bukan tanpa pemikiran yang matang, aksi tersebut sebelumnya dilatar belakangi oleh tulisan-tulisan ninit yang dimuat disalah satu jurnal ibu kota yang juga dimuat di salah satu koran lokal surabaya. Artikel tersebut berisi tentang penelitian ninit yang memperkirakan bahwa 24 tahun kedepan surabaya akan benar-benar kehilangannya lahan pertaniannya dan berubah menjadi bangunan karna hampir setiap tahun 5-50 hektar lahan pertaniannya beralih fungsi menjadi lahan-lahan industri yang menyebabkan surabaya lebih dikenal sebagai kota industri daripada kota pertanian, padahal surabaya masih memiliki 1.200 hektar lahan pertanian yang tersebar dipinggiran kota surabaya. Namun entah mengapa aksi tersebut malah mendapat respon buruk dari pihak kampus. Aksi mereka malah di anggap mencoreng nama baik kampus. Padahal dalam demonstrasi mereka sama sekali tidak ada aksi anarkis dan lain sebagainya.

Sementara itu beberapa kumpulan mahasiswa dari berbagai jurusan mengadakan sebuah perkumpulan kecil unuk menyusun sebuah kegiatan solidarisasi sebagai bentuk usaha untuk mempertahankan ke-13 mahasiswa yang terncam drop out tersebut karna mereka memiliki peran dan prestasi yang baik dikampus. Ninit yang ikut hadir dalam forum diskusi tersebut hanya bisa tertunduk lesu, ia terus berfikir apa yang harus ia sampaikan pada kedua orang tuanya jika ia benar-benar drop out dan beasiswanya ke negri kincir angin tersebut terancam dibatalkan. Padahal ia telah berusaha dengan susah payah membangun kepercayaan kedua orangtuanya dan membuat mereka bangga dengan segudang prestasi yang tak pernah berhenti ia dapat selama 2 tahun kebelakang. Ia terus berusaha menetralisir pikiran negative yang terus menerus berkecamuk di otaknya. Ia berusaha keras berfikir mecari jalan keluar atas segala masalah yang kini ia hadapi. Waktu terus berjalan, ninit melirik jam tangan kecilnya yang telah menunjukan waktu dzuhur. Ia memiliki waktu kurang lebih 45 menit sebelum ia kembali masuk ruang kulliah, dengan cepat ia beranjak dari ruangan tersebut menuju mesjid kampus. Disaat-saat seperti ini hal yang sering ia lakukan untuk menenagkan hatinya adalah berkomunikasi dengan Tuhannya lewat lantunan ayat suci Al-Quran dan doa-doa yang khusyu dan mendalam. Selesai shalat dan berdoa pada Rabb-nya ia segera berjalan menuju ruang perkuliahan, meski kini ia terancam drop out tapi bagaimanapun ia masih tercatat sebagai mahasiswi dikampus tersebut, maka mau tak mau ia harus tetap mengikuti jadwal perkuliahan yang ada.

Suasana runga perkuliahan teknik produksi hibrida siang hari ini terlihat cukup tenang. Ditengah-tengah waktu perkuliahan tiba-tiba pintu ruangan tersebut diketuk dari luar, terlihat pak Suryanto sekertaris KPK (Ketua Progam Keahlian) masuk dari arah luar, ia berdiskusi beberapa menit dengan dosen tersebut sambil sesekali menatap kearah ninit. Tak lama setelah itu ninit diminta untuk menghadap ruangan ketua program keahlian oleh sang dosen yang kemudian diantar oleh sekertaris KPK tersebut. Ninit berjalan dengan cukup santai menuju ruanga KPK sambil mencoba menerka-nerka apa yang akan terjadi disana.

“Ohh, sudah datang rupanya, ayo silahkan duduk.” Ujar pria setengah baya yang berkaca mata dan bertubuh kurus pada ninit ketika ia sampai diruangan tersebut. Ninit sempat merasa kaget karna ternyata direktur kemahasiswaan kampusnya pun ada di ruangan tersebut. Namun dengan cepat ia berusaha mengendalikan diri dan menghilangkan pemikiran buruk yang sempat melintas difikirannya.

“Maaf, ada apa ya pak?.” Tanya ninit dengan sedikit penasaran.

“Mungkin anda juga sudah bisa menebak apa alasan kami memanggil anda kemari, jujur saya dan pak andi sebagai direktur kemahasiswaan merasa sangat bangga memiliki mahasiswi berpersatsi seperti anda. Namun kami juga tidak bisa menutpi bahwa kami merasa sangat kecewa atas tindakan gegabah anda bersama rekan-rekan anda tersebut.” Ujar sang KPK yang diamini dengan anggukan sang dirut kemahasiswaan yang sedari tadi terus memperhatikan ninit dari atas kebawah. Ninit sempat merasa sedikit risih dengan tatapan pria paruh baya dengan badan yang cukup besar dan berkumis tipis tersebut.

“Maksud bapak gegabah apa ya?, sejauh ini saya merasa apa yang saya lakukan selalu berdasarkan pemikiran yang matang seperti apa yang selama ini bapak ajarkan pada saya.” Ucap ninit dengan santai namun tetap penuh adab.

“Anda tidak usah berlagak polos, baru jadi mahasiswa kemarin sore saja sudah mulai banyak tingkah. Anda tahukan aksi anda 3 minggu yang lalu bersama rekan-rekan anda tersebut menyebabkan kalian terancam DO. Anda juga sebagai “motor” utama kegiatan tersebut terancam kehilangan kesempatan beasiswa anda ke Wageningen University karna artikel-artikel anda yang dianggap memprovokasi warga sambikerep dan daerah lain disurabaya untuk tidak menjual tanahnya pada perusahan pengemabangan! Anda tau apa akibat dari kelakuan anda ini? Karna tulisan anda yang terkesan sok tau tersebut mengakibatkan perusahan pengembangan tersebut terancam bangkrut.” Kini giliran pak andi yang merupakan dirut kemahasiswaan berbicara dengan nada yang cukup tinggi.

“Jadi bapak lebih peduli terhadap nasib perusahaan tersebut daripada nasib para petani di desa itu? Bapal lebih suka melihat sawah-sawah disana berubah menjadi bangunan besar yang hanya menambah resiko kerusakan dan bencana alam karna tidak ada lagi lahan untuk penyerapan air? Bapak tega melihat para petani di daerah tersebut kehilangan sumber penghidupan utama mereka? Maaf pak, saya dan rekan-rekan juga melakukan aksi tersebut bukan tanpa alasan yang pasti. Artikel-artikel yang saya buat juga bukan berdasarkan pada data yang fiktif, segala aksi yang kami lakukan juga tidak menyalahi aturan. Kami hanya berusaha membantu membuka pemikiran para petani dan warga lainnya disana serta membantu mereka agar bisa mendapat perhatian dan perlindungan yang lebiih dari pemerintah.” Kini suara ninit mulai terdengar sedikir “bernyawa”.

“anda ini terlalu idealis, mahasiswa kemarin sore seperti anda tidak seharusnya banyak berfikir tentang rakyat kecil seperti mereka. Lebih baik anda fikirkan bagaimana perasaan orang tua anda jika tau anda terancam drop out seperti sekarang. Lebih baik sekarang anda dan teman-teman anda tersebut minta maaf pada pihak kampus dan perusahaan pengembangan tersebut serta mengajukan permohonan pembatalan drop out. Untuk permohonan maaf pada pihak perusahaan anda cukup mengajukan permohonan maaf via pak andi karna beliau merupakan pemegang saham terbesar diperusahaan tersebut. Bukan begitu pak andi?”

Mendengar ucapan sang KPK tersebut tiba-tiba ninit merasakan emosi yang begitu besar, ia kini mengerti apa yang terjadi dan ia kini mulai paham siapa lawan nya yang sebenarnya. Ia berusaha meredam amarahnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Saya mengerti sekarang pak. Saya tau mereka memang rakyat kecil yang memiliki banyak keterbatasan, maka dari itu saya sebagai mahasiswa yang merupakan pewaris peradaban serta memiliki tugas mengabdi pada rakyat kecil seperti mereka meras perlu untuk turun mebantu mereka sebisa dan semampu saya. Saya tau bapak memiliki kekuasaan tinggi dikampus, saya juga sekarang tau pak andi ini merupakan pemegang saham terbesar diperusahaan tersebut, bapak boleh mengeluarkan saya dari kampus ini, tapi asal bapak tau, meski saya tidak lagi menjadi mahasiswi dikampus pertanian ini, saya tidak akan berhenti membantu para petani tersebut mempertahankan tanah-tanah pertanian mereka. Terimakasih pak, maaf saya harus segera kembali ke kelas.” Ninit benar-benar emosi, ia berbicara dengan cukup lantang, terlihat guratan emosi diwajah manisnya. Sang Dirut Kemahasiswaan dan KPK yang mendengar perkataan ninit benar-benar merasa emosi.

Satu hari setelah pemanggilan ninit oleh KPK, ia mendapat skorsing 5 hari dari pihak kampus tanpa alasan yang jelas. Ketidak adilan yang ninit terima membuatnya makin terhimpt. Namun bukan nini namanya jika ia hanya berdiam diri dan hanya pasrah akan keadaan. 5 hari waktu skorsing yang ia terima malah ia manfaatkan untuk terus menulis berbagai artikel tentang kota kelahirannya tersebut. Ia bahkan sempat mengontak dan berkomunikasi dengan kepala dinas pertanian kota Surabaya dan beberapa perwakilan pemerintahan kota Surabaya agar pemerintah mengusahakan perlindungan untuk para petani yang tidak menjual tanah miliknya pada perusahaan tersebut dari ancaman para makelar tanah yang mulai mencoba menteror mereka.

Pagi ini setelah menjalani waktu skorsingnya, ninit merasa jiwanya jauh lebih kuat dari beberapa hari yang lalu. Ketika ia berjalan memasuki gerbang kampus tiba-tiba ia mendapat sebuah kejutan dari teman-teman mahasiswanya. Para mahasiswa tersebut membawa spanduk berbagai ukuran dengan berbagai tulisan pula yang berisikan perintah untuk pembatalan Drop Out ke-13mahasiswa dikampus mereka termasuk ninit. Aksi solodarisasi tersebut dilakukan di depan ruangan jajaran direktur kampus. Seorang gadis dengan jilbab biru muda tiba-tiba mendekat dan merangkul bahu ninit, ia mengajak ninit bergabung bersama para mahasiswa tersebut.

“Nit, kita semua pasti terus bantu kamu, kita juga udah berhasil menghubungi wali kota Surabaya. Beliau hari ini berangkat langsung dari Surabaya ke kampus untuk membantu membicarakan masalah kamu & anak-anak yang lain sama para petinggi kampus.” Ucap gadis tersebut.

“Subhanallah, jazakillah ya yun.” Ucap ninit dengan suara bergetar. Ia benar-benar merasa terharu atas apa yang rekan-rekannya lakukan.

5 hari setelah kejadian tersebut, akhirnya dikeluarkan keputusan pembatalan drop out ke -13 mahasiswa tersebut. Beasiswa ninit ke negri kincir angin pun mulai bisa diproses kembali. Ninit terus mengucapkan rasa terimakasihnya pada semua orang juga berulang kali mengucap hamdalah sebagai rasa syukur pada Rabb-Nya. Ninit juga mendapat penghargaan dari pemerintah kota Surabaya atas keberanian dan kecerdasanya dalam mempertahankan hak-hak para petani desa sambikerep tersebut.

Sementara itu dirut kemahasiswaan dan KPK yang dulu mencacimaki dan meremehkan segala pemikirannya kini menjalani proses pemeriksaan dikantor polisi karna terbukti telah melakukan berbagai tindak kecurangan dikampus. Hal tersebut terungkap atas pengakuan para mahasiswa yang memiliki banyak bukti yang akurat atas tindak criminal tersebut.

Ninit mulai kembali tersenyum ceria. Ia kembali teringat perkataan guru ngajinya semasa ia masih di Surabaya bahwa Allah itu maha adil, Ia tidak pernah tertidur dan tidak pernah ingkar atas apa yang ia janjikan. Ia teringat penggalan ayat suci Al-Quran yang dibacakan guru ngajinya tersebut

“Fa-inna ma’al ‘usri yusraa. Inna ma’al ‘usri yusraa. Karna sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Senin, 22 Agustus 2011

CA Ko1,3 I'm in love

Ada sesuatu yang berbeda dan sulit tuk diartikan ketika tatapan mata saling bertemu.
Seolah perputaran bumi berhenti sejenak dan kaki tak lagi berpijak.
Ada sesuatu yang sulit tuk diucap, ketika muka saling berhadap
Seolah mulut terkunci, terbekap dalam suatu perangkap.

Sulit tuk dimengerti dan dipahami ketika hati mulai bereaksi
Jantung mulai berdebar
Dan Akal mulai coba tuk mengenal

Hari-hari yang dilewati terasa sulit ketika mata selalu ingin nikmati sorot tajam serta pesona indah wajah teduh itu
Namun hari-hari akan terasa berat jika tak bisa nikmati berjuta keindahan dari paras itu.

Sungguh. . .
Hati dan fikiran ini tak bisa kenali dan kendaliakn segala rasa yang ada.